Selasa, 03 April 2012

cinta tak pernah salah




CINTA TAK PERNAH SALAH

Seberapa besarpun keinginanku untuk tetap tegar, takkan mampu membendung tetesan air hangat yang meleleh dari pipiku sejak tadi. Mungkin hanya dalam ruang imajilah kehidupan cintaku akan bahagia. Betapa tidak, laki-laki yang selama ini menemani perjalanan hidupku begitu sulit untuk kuraih meski telah ada dalam genggamanku. Pramunanta begitu mudahnya menelusup ke relung hatiku yang terdalam dan tumbuh bersama cinta yang perlahan-perlahan kujalin bersamanya. Sudah lebih empat tahun kisah ini tersusun rapi, dan kami tidak ingin jalinan asmara yang tercipta di antara kami hanya sebatas sampai pada titik ini, ada harapan besar yang ingin terajut, dan hal inilah yang telah diutarakan Pram pada keluarganya, tapi segalanya tak seperti yang kubayangkan. Mereka keberatan menerimaku karena aku hnayalah seorang guru honor, yang belum menjadi pegawai negeri, dan Pram adalah anak keluarga terpandang di kota ini. Ayahnya seorang pengusaha dan dia sendiri sudah menjadi dosen tetap di universitas negeri. Perih…… perasaanku terlalu rapuh untuk tak hancur. Bagaimana tidak, selama menjalin hubungan dengan Pram, segalanya telah kuberikan, bahkan hal paling berharga dari seorang wanita sudah tak kumiliki lagi. Semua demi cintaku untuk Pram. Tapi setidaknya kasih sayang Pram cukup menguatkanku untuk tetap tegar menjalani hidup, janji yang ia beri untukku tidak habis-habisnya kulahap penuh harap dalam penantian yang tak kunjung usai………*

Jarum jam menunjukkkan pukul 13.00, sebentar lagi Pram akan datang… ia akan datang membawa jawaban dari segala teka-teki yang berkecamuk dalam diriku semenjak tadi. Ahhhh.. rasanya sudah dapat kupastikan, kalau berita yang kan kudengar, tidaklah sama dengan harapanku. Orang tua Pram terlalu larut dalam ketuliannya jika hanya dibutuhkan untuk mendengar permintaan Pram.
Di saat seperti ini, waktupun kurasa terlalu kejam karena tak sedikitpun memberiku ruang untuk tersenyum. Di tengah kegundahan yang kurasakan bayangan Pram datang menghampiriku, ia berjalan pelan sambil tersenyum manis ke arahku. Senyuman yang selalu menyejukkan sendi-sendi jiwaku.
“Bagaimana Pram?” kataku setengah tak sabar mendengar pengakuannya.

“hm.. belum ada perubahan sayang, mereka tetap memintaku menikah dengan gadis pilihan Ibu.”

Kata-kata itu sungguh merobek hatiku. Betapa tidak laki-laki yang selama ini begitu berarti dan teramat indah di hatiku hendak disandingkan dengan wanita lain yang jauh lebih unggul dariku dari segi materi. Wanita itu punya segalanya yang diinginkan orang tua Pram. Dia adalah seorang perawat di rumah sakit yang cukup dikenal di kota ini. Gajinya hampiir setara dengan Pram, tentu saja hal ini membuat keluarga Pram berniat menikahkannya dengan Pram. Aku kurang tahu namaanya, Pram sendiri belum mengenal gadis itu, tapi menurut informasi yang ia dapatkan dari orang tuanya, gadis itu adalah teman kecil Pram.
“Ternyata benar, semua pengorbananku selama ini hanya sia-sia Pram, kamu sebentar lagi akan  dimilki orang lain dan aku………,” kata-kataku terpotong oleh air mata yang semakin deras, kurasakan tubuhku tak lagi berada di bumi, ada sekat besar yang menggumpal dalam tenggorokanku.
“Sayang, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau menikah dengan orang lain, kamu tahu itu kan? Aku hanya mencintaimu Dinda!” kata Pram lalu memelukku erat. Aku semakin larut dalam pelukannya. Tak bisa kubayangkan jika itu adalah pelukan terakhir yang diberikan Pram untukku.
“Tapi Pram, aku tahu betul kalau kamu tak bisa melawan kehendak orang tuamu, lalu bagaimana dengan aku Pram? Aku sudah tak memilki arti lagi jika bukan kau yang meminangku, kita tlah melakukan dosa sebelumnya Pram. Dan aku hanya bisa kuat karena janji kamu untuk menikahiku.” Isakan tangisku kembali memecahkan dinding bumi dan langit biru, seakan ketakutanku selama ini telah berada di ujung jari yang siap untuk dilepaskan.
“Tidak Dinda, janji itu akan kupenuhi, aku tidak mungkin membiarkanmu hancur. Ini semua karena salahku dan aku akan mempertanggungjawabkannya sayang, ku mohon percayalah!”
“Sampai kapan Pram? sampai melihatmu bersanding dengan wanita lain? Kenapa Pram, kenapa kamu tidak mengatakan saja pada orang tuamu tentang semua ini?” kubalikkan wajahku dari hadapannya, ada sedikit rasa kecewa yang tersimpan untuk Pram di dalam dadaku. Ia tidak pernah memiliki keberanian untuk mengatakan pada orang tuanya tentang hubunganku yang sudah sangat jauh, ia teralu larut dalam dekapan orang tuanya yang selalu memaksa untuk patuh meski peraturan itu tak sepenuhnya benar untuk Pram.
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu dengan cara apa mengatakannya, apalagi dengan Ibuku, ia akan sangat shok mendengarkan ini Dinda, dan aku tidak ingin menjadi anak durhaka yang membunuh ibunya.”
“Kalau begitu, aku tahu pasti Pram dari kata-katamu kalau kamu rela menikah dengan gadis lain pilihan ibumu dan meninggalkanku.”

Sakit sesakit-sakitnya menjalar ke seluruh ruang dalam diriku. Jagad rayapun tak cukup besar untuk menampung segala kepedihanku. Tak dapat kubayangkan jika Pram harus bersanding dengan wanita lain sementara hidupku telah hancur karena cinta untuknya.
“Dinda, tak ada seorang pun yang menginginkan ibunya murka, tapi kamu juga harus tahu dari hati kecilku yang paling dalam, kaulah satu-satunya bunga yang bisa tumbuh dan bermekaran di sana, dan aku tak akan pernah mungkin untuk menggantinya dengan bunga yang lain meski itu adalah pilihan ibuku, kumohon jangan membuatku tersudut sayang, kita harus berjuang dan kamu harus percaya, semua ini hanya persoalan waktu.” Pram begitu bijak memainkan kata-katanya, meski hanya sebatas itu tapi harapanku tumbuh lagi untuk merajut mimpi bersamanya dalam pelaminan indah yang telah kubayangkan bersamanya sebelumnya.
 ……..
Udara pagi ini terasa menusuk tubuh, seperti biasa di pagi hari aku harus bergelut dengan kesibukanku untuk menjadi tenaga pendidik di Sekolah Menengah Atas, meski hanya seorng guru honorer tapi membagi ilmu yang kupunya denga para siswa cukup memberi satu nafas keindahan dalam hari-hariku. Saat bersama mereka, masalahku dengan Pram bisa terlupakan, tetapi sepertinya semua itu tak berlaku untuk hari ini, pikiranku tak bisa terfokus pada pelajaran yang akan kusajikan, maka kuputuskan untuk memberi mereka tugas untuk dikerjakan dan aku meminta izin untuk pulang ke rumah dengan alasan “kurang enak badan”.
Kuhempaskan tubuhku di tempat tidur, dari kemarin belum ada makanan yang masuk ke dalam lambungku. Tapi semua itu tidak membuatku lapar. Kucoba untuk memejamkan mata tapi yang terbayang hanyalah wajah Pram dan segala ucapannya yang masih terekam jelas dalam memoriku. Kurangkai satu per satu untuk menemui titik temu dari imajinasi ini, tapi tak ada satupun ingatan yang mampu membantuku untuk mewujudkan mimpi. Hanya Pram lah satu-satunya yang bisa mewujudkannya. Kekuatan cinta yang dimiliki Pram untukku terasa dengan jelas dalam aliran darahku. Hari ini Pram telah mengutarakan segalanya pada Ibunya tentang hubunganku yang tak pernah mendapatkan restu dan alasan mengapa hubungan ini harus dilanjutkan telah Pram ungkapkan serinci mungkin. Tak dapat  kubayangkan reaksi Ibunya setelah mendengar pengakuan Pram. Ibunya sangat terpukul, bagaimana mungkin seorang anak yang ia banggakan dan selama ini begitu penurut dengan orang tuanya, teralu berani melakukan hal-hal buruk yang bahkan tak beretika. Sejak dulu Pram dilarang untuk dekat dengan seorang wanita sebelum ia memperoleh gelar sarjana dan memilki pekerjaan, selain itu ibunya memberi alasan lain bahwa ia telah dijodohkan dengan seorang wanita yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Tapi Pram hanyalah seorang makhluk Tuhan yang tidak bisa menahan perasaanya untuk tidak menjalin hubungan dengan orang yang dicintainya dan juga yang mencintainya, Aku dan Pram telah menjalani ikatan cinta sejak kami masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Dan selama empat tahun itu hubungan kami tak diketahui oleh orang tua Pram. Berbeda dengan orang tuaku yang telah menyetujui hubungan kami, meski orang tuaku juga tidak tahu bahwa hubungan kami sudah terlampau jauh untuk batas seorang kekasih.
Tapi ternyata pengakuan Pram tak cukup membuat ibunya luluh. Awalnya ia menyetujui jika Pram ingin menikahiku tapi karena ia tahu bahwa aku hanyalah seorang pegawai honorer, ia menentang dengan keras untuk menerimaku menjadi menantunya.
Kutahu Pram tak bisa lagi berbuat apa-apa, tapi semua ini harus kuperjuangkan demi masa depanku. Tak mungkin lagi untuk mengembalikan segala keutuhanku sebagai seorang “gadis”, semua itu tlah dimiliki dan kuserahkan pada Pram semenjak awal kami menjalin hubungan, selama empat tahun ini. Yang bisa kulakukan hanya memperbaikinya bersama Pram. …….*

Bayang-bayang ketakutan tentang masa depan yang tak jelas, membuat langkahku tertuntun untuk menemui ibu Pram, kuharap hatinya bisa luluh saat mendengar pengakuanku. Aku tak mungkin meminta orang tuaku untuk membantuku dalam masalah ini, aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku anak gadisnya, bukanlah seorang “gadis”. Biarkan mereka tahu setelah aku menikah dengan Pram.
Kupandangi rumah Pram dengan teliti, banyak perubahan yang tak pernah kulihat akhir-akhir ini. Semenjak orang tuanya pindah di rumah yang di tempati Pram di kota ini setelah ia sarjana, Aku tak pernah lagi ke tempat ini demi menutupi dan menyembunyikan hubunganku dengan Pram agar ia tetap menjadi anak mama yang penurut. Sebelum kepindahan mereka, aku sering diajak Pram ke rumah ini, hanya ada aku dan Pram di dalamnya. Dan semua orang pasti tahu apa yang akan terjadi, jika hanya ada dua anak manusia yang di mabuk asmara dalam suatu ruangan, maka itulah yang terjadi padaku dengan Pram selama empat tahun ini. Tapi kami berusaha sebaik mungkin agar apa yang kami lakukan tidak menghasilkan benih dalam rahimku, Aku dan Pram saat itu belum cukup bisa untuk menanggung malu. Tapi sekarang semua tlah berbeda, Aku sudah teralu lelah hidup dalam bayang-bayang dosa yang tak bisa termaaafkan. Sempat terpikir di benakku untuk melupakan Pram dan membencinya, karena dialah yang mengajariku untuk larut dalam rayuannya, betapapun hatiku mencoba menolak, tapi aku bersumpah demi apapun di muka bumi ini bahwa Pram terlalu mudahnya untuk merebut hatiku, ku tak kan bisa menolak keinginannya, pesonanya terlalu kuat untuk kuabaikan, cintaku terlalu besar untuk seorang manusia seperti Pram, bahkan saat bersamanya cintaku pada Tuhanku seolah tak berarti lagi.
Tapi waktu cukup bijak untuk mengubah pola pikirku, Aku tak mungkin menjalani ikatan yang seperti ini selama hidupku. Penyesalan terlalu banyak jika harus kurenungi tanpa tindakan sedikitpun.
“Assalamu alaikum!” kuberanikan diri mengetuk pintu dan memberi salam, ku tahu kalau di rumah itu hanya ada Pram dan Ibunya. Ayahnya, sedang tidak di rumah.
“Wa alaikum salam.” Jawab seseorang dari dalam.
Aliran darah dalam jantungku semakin berpacu dengan nafas yang sangat sesak. Terdengar suara seorang wanita menjawab salamku. Dan dia adalah wanita yang dipanggil Pram sebagai ibu.
Terpancar jelas aura keheranan dalam wajahnya saat menatapku. Sepertinya ia belum tahu bahwa akulah wanita yang dimaksud oleh Pram dan sekaligus wanita yang hampir melumpuhkan urat sarafnya karena kelakuan anaknya.
“Siapa yah?”
“Saya Dinda bu, temannya Pram.” Ucapku mencoba seramah mungkin agar ia tak tersinggung.
Belum sempat ia memberi pertanyaan lagi, tiba-tiba Pram muncul sambil mengusap-usapkan handuk di kepalanya. Sepertinya ia baru saja selesai mandi. Masih dapat kulihat wajahnya yang begitu kurindukan. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya karena Ibunya sudah memberikan pengawasan ketat agar ia tak bertemu denganku.
“Dinda, kenapa kamu ke sini? Aku kan sudah…..”
“Pram, kali ini aku harus mendengarkan kata hatiku, aku harus ketemu sama ibu kamu” kataku pada Pram dengan penuh ketegangan.
“Oh, jangan-jangan kamu yang selama ini pacaran sama Pram yah?” tangan ibu Pram hampir saja mengenai pipikiu. Kulihat aura kemarahan di wajahnya.
Kuberanikan diri untuk tidak menampik tamparannya. Telah kusediakan diri dari sebelumnya menghadapi kemungkinan ini. Aku tak akan menyerah hanya karena itu.
“Tampar saja Bu, saya memang salah. Tapi tidak bisakah Ibu menerima saya? Saya dan Pram ingin memperbbaiki kesalahan kami dan kami juga saling mencintai.” Kataku setengah memohon,
“Dinda.” Pram hanya bisa menyebut namaku, tampak jelas bahwa ia tak tahu harus berbuat apa.
Ibu Pram berbalik menatapnya, “Jadi wanita inilah yang sudah menadi alasanmu untuk durhaka pada ibumu Pram?” keriput di wajahnya semakin mengerut, ada kemarahan sekaligus rasa kecewa yang terpancar dari sana.
Keberanianku untuk menemui Ibu Pram ternyata tak sepadan dengan nyaliku untuk mengucap satu kata pun dalam keadaan seperti ini, bibirku terkunci rapat oleh hembusan ketakutan dan butiran air mata  yang kembali meleleh.
“Bu, Saya sangat mencintai Dinda Bu, ijinkan Saya menikahinya!” kata Pram dengan nada mengiba.
Wanita paruh baya itu, masih berdiri tegak dalam keangkuhannya. Ia tak memberi jawaban apapun dari teka-teki yang ia ciptakan sendri untuk saat ini. Aku tak mungkin lagi menunggu purnama ke esokan harinya dalam peraduanku sementara aku tlah berdiri di ujung puurnama, dan sebentar lagi aku kan terjatuh menghempas bumi. Ku tundukkan  wajahku dan berlutut padanya dengan penuh kerendahan. “Saya tahu Ibu sangat kecewa padaku dan juga Pram, apalagi saya bukanlah wanita yang Ibu harapkan. Tapi saya janji bu. Saya akan membahagiakan Pram selama hidupku.”
Sebagai seorang wanita kutahu pasti kalau ia bisa merasakan apa yang tersimpan dan berkecamuk dalam batinku. Perlahan ia menunduk dan menyuruhku untuk bangkit.
Lalu dengan isakan tangis yang berusaha dibendungnya ia mengucapkan sesuatu yang tak kutahu maknanya. ‘ Pilihlah jalan hidupmu sendiri Pram, Ibu tak akan mencampurinya lagi, begitu pula dengan Ayahmu. Ia akan sepaham dengan Ibu. Menikahlah dengannya tapi jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini.” Kalimat inilah yang tergambar jelas dalam ingatanku dan semakin menusuk hingga persendian otakku terasa tak berfungsi lagi…….**

Dan pada akhirnya Pram memutuskan untuk menikahiku, meski harus terpisah dengan orang tuanya. Tapi inilah jalan yang ia tempuh untuk membahagiakanku, “meski sampai di ujung duniapun mereka berteriak dan tak mengakuiku sebagai anak, aku tetap anaknya sampai kapanpun Dinda, aku hanya butuh dukunganmu agar mereka bisa merubah pola pikirnya seiring waktu.” Hanya kalimat itulah yang diucapkan Pram ketika aku mempertanyakan alasan mengapa ia tetap ingin menikahiku. Ada perasaan bahagia yang menyelimuti hatiku. Pram telah membuktikan semua janjinya padaku, janji yang selama ini menjadi bayang-byang ketakutanku, kini tlah berubah menjadi senyuman indah dalam lukisan hidupku bersama Pram.
Tak terasa sudah satu tahun pernikahan kami, dan Tuhan telah menganugerahkan satu nafas hidup untukku dan juga Pram, ia begitu mungil, mirip seperti Pram. Bidadari kecil yang kusebut Diva. Dan satu hal lagi anugerah terbesar yang diberikan Tuhan seiring kelahiran Diva, orang tua Pram pertama kalinya menemui kami di rumah kontrakan yang telah kami sewa setelah menikah. Meski mereka hanya menyapa Pram , tapi setidaknya kurasakan rona kesenangan terpancar jelas dari wajahnya saat melihat Diva. Aku yakin waktu tak akan membuatku menunggu terlalu lama untuk mendapatkan cinta dari orang tua Pram. Biarlah Tuhan menjalankan rencananya untuk menata kedewasaanku agar tetap bersabar dan berusaha lebih baik dalam menjalani hidup, dan cerita masa lalu kelamku tak akan kuwariskan pada Diva, bidadari kecilku. Suatu saat nanti, akan ada cinta dari orang tua Pram yang jauh lebih indah dari harapanku. Satu hal yang kutahu Pasti, cintaku untuk Pram takkan pernah salah…..