CINTA
TAK PERNAH SALAH
Seberapa besarpun
keinginanku untuk tetap tegar, takkan mampu membendung tetesan air hangat yang
meleleh dari pipiku sejak tadi. Mungkin hanya dalam ruang imajilah kehidupan
cintaku akan bahagia. Betapa tidak, laki-laki yang selama ini menemani
perjalanan hidupku begitu sulit untuk kuraih meski telah ada dalam genggamanku.
Pramunanta begitu mudahnya menelusup ke relung hatiku yang terdalam dan tumbuh
bersama cinta yang perlahan-perlahan kujalin bersamanya. Sudah lebih empat tahun
kisah ini tersusun rapi, dan kami tidak ingin jalinan asmara yang tercipta di
antara kami hanya sebatas sampai pada titik ini, ada harapan besar yang ingin
terajut, dan hal inilah yang telah diutarakan Pram pada keluarganya, tapi
segalanya tak seperti yang kubayangkan. Mereka keberatan menerimaku karena aku
hnayalah seorang guru honor, yang belum menjadi pegawai negeri, dan Pram adalah
anak keluarga terpandang di kota ini. Ayahnya seorang pengusaha dan dia sendiri
sudah menjadi dosen tetap di universitas negeri. Perih…… perasaanku terlalu
rapuh untuk tak hancur. Bagaimana tidak, selama menjalin hubungan dengan Pram,
segalanya telah kuberikan, bahkan hal paling berharga dari seorang wanita sudah
tak kumiliki lagi. Semua demi cintaku untuk Pram. Tapi setidaknya kasih sayang
Pram cukup menguatkanku untuk tetap tegar menjalani hidup, janji yang ia beri
untukku tidak habis-habisnya kulahap penuh harap dalam penantian yang tak
kunjung usai………*
Jarum jam menunjukkkan pukul 13.00, sebentar
lagi Pram akan datang… ia akan datang membawa jawaban dari segala teka-teki
yang berkecamuk dalam diriku semenjak tadi. Ahhhh.. rasanya sudah dapat
kupastikan, kalau berita yang kan kudengar, tidaklah sama dengan harapanku.
Orang tua Pram terlalu larut dalam ketuliannya jika hanya dibutuhkan untuk
mendengar permintaan Pram.
Di saat seperti ini, waktupun kurasa
terlalu kejam karena tak sedikitpun memberiku ruang untuk tersenyum. Di tengah
kegundahan yang kurasakan bayangan Pram datang menghampiriku, ia berjalan pelan
sambil tersenyum manis ke arahku. Senyuman yang selalu menyejukkan sendi-sendi
jiwaku.
“Bagaimana Pram?” kataku setengah tak
sabar mendengar pengakuannya.
“hm.. belum ada perubahan sayang, mereka
tetap memintaku menikah dengan gadis pilihan Ibu.”
Kata-kata itu sungguh merobek hatiku.
Betapa tidak laki-laki yang selama ini begitu berarti dan teramat indah di
hatiku hendak disandingkan dengan wanita lain yang jauh lebih unggul dariku
dari segi materi. Wanita itu punya segalanya yang diinginkan orang tua Pram.
Dia adalah seorang perawat di rumah sakit yang cukup dikenal di kota ini.
Gajinya hampiir setara dengan Pram, tentu saja hal ini membuat keluarga Pram
berniat menikahkannya dengan Pram. Aku kurang tahu namaanya, Pram sendiri belum
mengenal gadis itu, tapi menurut informasi yang ia dapatkan dari orang tuanya,
gadis itu adalah teman kecil Pram.
“Ternyata benar, semua pengorbananku
selama ini hanya sia-sia Pram, kamu sebentar lagi akan dimilki orang lain dan aku………,” kata-kataku
terpotong oleh air mata yang semakin deras, kurasakan tubuhku tak lagi berada
di bumi, ada sekat besar yang menggumpal dalam tenggorokanku.
“Sayang, sampai kapanpun, aku tidak akan
pernah mau menikah dengan orang lain, kamu tahu itu kan? Aku hanya mencintaimu
Dinda!” kata Pram lalu memelukku erat. Aku semakin larut dalam pelukannya. Tak
bisa kubayangkan jika itu adalah pelukan terakhir yang diberikan Pram untukku.
“Tapi Pram, aku tahu betul kalau kamu
tak bisa melawan kehendak orang tuamu, lalu bagaimana dengan aku Pram? Aku
sudah tak memilki arti lagi jika bukan kau yang meminangku, kita tlah melakukan
dosa sebelumnya Pram. Dan aku hanya bisa kuat karena janji kamu untuk
menikahiku.” Isakan tangisku kembali memecahkan dinding bumi dan langit biru,
seakan ketakutanku selama ini telah berada di ujung jari yang siap untuk
dilepaskan.
“Tidak Dinda, janji itu akan kupenuhi,
aku tidak mungkin membiarkanmu hancur. Ini semua karena salahku dan aku akan
mempertanggungjawabkannya sayang, ku mohon percayalah!”
“Sampai kapan Pram? sampai melihatmu
bersanding dengan wanita lain? Kenapa Pram, kenapa kamu tidak mengatakan saja
pada orang tuamu tentang semua ini?” kubalikkan wajahku dari hadapannya, ada
sedikit rasa kecewa yang tersimpan untuk Pram di dalam dadaku. Ia tidak pernah
memiliki keberanian untuk mengatakan pada orang tuanya tentang hubunganku yang
sudah sangat jauh, ia teralu larut dalam dekapan orang tuanya yang selalu
memaksa untuk patuh meski peraturan itu tak sepenuhnya benar untuk Pram.
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu
dengan cara apa mengatakannya, apalagi dengan Ibuku, ia akan sangat shok
mendengarkan ini Dinda, dan aku tidak ingin menjadi anak durhaka yang membunuh
ibunya.”
“Kalau begitu, aku tahu pasti Pram dari
kata-katamu kalau kamu rela menikah dengan gadis lain pilihan ibumu dan
meninggalkanku.”
Sakit sesakit-sakitnya menjalar ke
seluruh ruang dalam diriku. Jagad rayapun tak cukup besar untuk menampung
segala kepedihanku. Tak dapat kubayangkan jika Pram harus bersanding dengan
wanita lain sementara hidupku telah hancur karena cinta untuknya.
“Dinda, tak ada seorang pun yang menginginkan
ibunya murka, tapi kamu juga harus tahu dari hati kecilku yang paling dalam,
kaulah satu-satunya bunga yang bisa tumbuh dan bermekaran di sana, dan aku tak akan
pernah mungkin untuk menggantinya dengan bunga yang lain meski itu adalah
pilihan ibuku, kumohon jangan membuatku tersudut sayang, kita harus berjuang
dan kamu harus percaya, semua ini hanya persoalan waktu.” Pram begitu bijak
memainkan kata-katanya, meski hanya sebatas itu tapi harapanku tumbuh lagi
untuk merajut mimpi bersamanya dalam pelaminan indah yang telah kubayangkan
bersamanya sebelumnya.
……..
Udara pagi ini terasa menusuk tubuh,
seperti biasa di pagi hari aku harus bergelut dengan kesibukanku untuk menjadi
tenaga pendidik di Sekolah Menengah Atas, meski hanya seorng guru honorer tapi
membagi ilmu yang kupunya denga para siswa cukup memberi satu nafas keindahan
dalam hari-hariku. Saat bersama mereka, masalahku dengan Pram bisa terlupakan,
tetapi sepertinya semua itu tak berlaku untuk hari ini, pikiranku tak bisa
terfokus pada pelajaran yang akan kusajikan, maka kuputuskan untuk memberi
mereka tugas untuk dikerjakan dan aku meminta izin untuk pulang ke rumah dengan
alasan “kurang enak badan”.
Kuhempaskan tubuhku di tempat tidur,
dari kemarin belum ada makanan yang masuk ke dalam lambungku. Tapi semua itu
tidak membuatku lapar. Kucoba untuk memejamkan mata tapi yang terbayang hanyalah
wajah Pram dan segala ucapannya yang masih terekam jelas dalam memoriku.
Kurangkai satu per satu untuk menemui titik temu dari imajinasi ini, tapi tak
ada satupun ingatan yang mampu membantuku untuk mewujudkan mimpi. Hanya Pram
lah satu-satunya yang bisa mewujudkannya. Kekuatan cinta yang dimiliki Pram
untukku terasa dengan jelas dalam aliran darahku. Hari ini Pram telah mengutarakan
segalanya pada Ibunya tentang hubunganku yang tak pernah mendapatkan restu dan
alasan mengapa hubungan ini harus dilanjutkan telah Pram ungkapkan serinci
mungkin. Tak dapat kubayangkan reaksi
Ibunya setelah mendengar pengakuan Pram. Ibunya sangat terpukul, bagaimana
mungkin seorang anak yang ia banggakan dan selama ini begitu penurut dengan
orang tuanya, teralu berani melakukan hal-hal buruk yang bahkan tak beretika. Sejak
dulu Pram dilarang untuk dekat dengan seorang wanita sebelum ia memperoleh gelar
sarjana dan memilki pekerjaan, selain itu ibunya memberi alasan lain bahwa ia
telah dijodohkan dengan seorang wanita yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Tapi Pram hanyalah seorang makhluk Tuhan yang tidak bisa menahan perasaanya
untuk tidak menjalin hubungan dengan orang yang dicintainya dan juga yang
mencintainya, Aku dan Pram telah menjalani ikatan cinta sejak kami masih
menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Dan selama empat tahun itu hubungan
kami tak diketahui oleh orang tua Pram. Berbeda dengan orang tuaku yang telah
menyetujui hubungan kami, meski orang tuaku juga tidak tahu bahwa hubungan kami
sudah terlampau jauh untuk batas seorang kekasih.
Tapi ternyata pengakuan Pram tak cukup
membuat ibunya luluh. Awalnya ia menyetujui jika Pram ingin menikahiku tapi
karena ia tahu bahwa aku hanyalah seorang pegawai honorer, ia menentang dengan
keras untuk menerimaku menjadi menantunya.
Kutahu Pram tak bisa lagi berbuat apa-apa,
tapi semua ini harus kuperjuangkan demi masa depanku. Tak mungkin lagi untuk
mengembalikan segala keutuhanku sebagai seorang “gadis”, semua itu tlah
dimiliki dan kuserahkan pada Pram semenjak awal kami menjalin hubungan, selama
empat tahun ini. Yang bisa kulakukan hanya memperbaikinya bersama Pram. …….*
Bayang-bayang ketakutan tentang masa
depan yang tak jelas, membuat langkahku tertuntun untuk menemui ibu Pram,
kuharap hatinya bisa luluh saat mendengar pengakuanku. Aku tak mungkin meminta
orang tuaku untuk membantuku dalam masalah ini, aku tidak ingin mereka tahu
bahwa aku anak gadisnya, bukanlah seorang “gadis”. Biarkan mereka tahu setelah
aku menikah dengan Pram.
Kupandangi rumah Pram dengan teliti,
banyak perubahan yang tak pernah kulihat akhir-akhir ini. Semenjak orang tuanya
pindah di rumah yang di tempati Pram di kota ini setelah ia sarjana, Aku tak
pernah lagi ke tempat ini demi menutupi dan menyembunyikan hubunganku dengan
Pram agar ia tetap menjadi anak mama yang penurut. Sebelum kepindahan mereka,
aku sering diajak Pram ke rumah ini, hanya ada aku dan Pram di dalamnya. Dan
semua orang pasti tahu apa yang akan terjadi, jika hanya ada dua anak manusia
yang di mabuk asmara dalam suatu ruangan, maka itulah yang terjadi padaku dengan
Pram selama empat tahun ini. Tapi kami berusaha sebaik mungkin agar apa yang
kami lakukan tidak menghasilkan benih dalam rahimku, Aku dan Pram saat itu
belum cukup bisa untuk menanggung malu. Tapi sekarang semua tlah berbeda, Aku
sudah teralu lelah hidup dalam bayang-bayang dosa yang tak bisa termaaafkan.
Sempat terpikir di benakku untuk melupakan Pram dan membencinya, karena dialah
yang mengajariku untuk larut dalam rayuannya, betapapun hatiku mencoba menolak,
tapi aku bersumpah demi apapun di muka bumi ini bahwa Pram terlalu mudahnya
untuk merebut hatiku, ku tak kan bisa menolak keinginannya, pesonanya terlalu
kuat untuk kuabaikan, cintaku terlalu besar untuk seorang manusia seperti Pram,
bahkan saat bersamanya cintaku pada Tuhanku seolah tak berarti lagi.
Tapi waktu cukup bijak untuk mengubah
pola pikirku, Aku tak mungkin menjalani ikatan yang seperti ini selama hidupku.
Penyesalan terlalu banyak jika harus kurenungi tanpa tindakan sedikitpun.
“Assalamu alaikum!” kuberanikan diri
mengetuk pintu dan memberi salam, ku tahu kalau di rumah itu hanya ada Pram dan
Ibunya. Ayahnya, sedang tidak di rumah.
“Wa alaikum salam.” Jawab seseorang dari
dalam.
Aliran darah dalam jantungku semakin
berpacu dengan nafas yang sangat sesak. Terdengar suara seorang wanita menjawab
salamku. Dan dia adalah wanita yang dipanggil Pram sebagai ibu.
Terpancar jelas aura keheranan dalam
wajahnya saat menatapku. Sepertinya ia belum tahu bahwa akulah wanita yang
dimaksud oleh Pram dan sekaligus wanita yang hampir melumpuhkan urat sarafnya
karena kelakuan anaknya.
“Siapa yah?”
“Saya Dinda bu, temannya Pram.” Ucapku
mencoba seramah mungkin agar ia tak tersinggung.
Belum sempat ia memberi pertanyaan lagi,
tiba-tiba Pram muncul sambil mengusap-usapkan handuk di kepalanya. Sepertinya
ia baru saja selesai mandi. Masih dapat kulihat wajahnya yang begitu
kurindukan. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya karena Ibunya sudah
memberikan pengawasan ketat agar ia tak bertemu denganku.
“Dinda, kenapa kamu ke sini? Aku kan
sudah…..”
“Pram, kali ini aku harus mendengarkan
kata hatiku, aku harus ketemu sama ibu kamu” kataku pada Pram dengan penuh
ketegangan.
“Oh, jangan-jangan kamu yang selama ini
pacaran sama Pram yah?” tangan ibu Pram hampir saja mengenai pipikiu. Kulihat
aura kemarahan di wajahnya.
Kuberanikan diri untuk tidak menampik
tamparannya. Telah kusediakan diri dari sebelumnya menghadapi kemungkinan ini.
Aku tak akan menyerah hanya karena itu.
“Tampar saja Bu, saya memang salah. Tapi
tidak bisakah Ibu menerima saya? Saya dan Pram ingin memperbbaiki kesalahan
kami dan kami juga saling mencintai.” Kataku setengah memohon,
“Dinda.” Pram hanya bisa menyebut
namaku, tampak jelas bahwa ia tak tahu harus berbuat apa.
Ibu Pram berbalik menatapnya, “Jadi
wanita inilah yang sudah menadi alasanmu untuk durhaka pada ibumu Pram?”
keriput di wajahnya semakin mengerut, ada kemarahan sekaligus rasa kecewa yang
terpancar dari sana.
Keberanianku untuk menemui Ibu Pram ternyata
tak sepadan dengan nyaliku untuk mengucap satu kata pun dalam keadaan seperti
ini, bibirku terkunci rapat oleh hembusan ketakutan dan butiran air mata yang kembali meleleh.
“Bu, Saya sangat mencintai Dinda Bu,
ijinkan Saya menikahinya!” kata Pram dengan nada mengiba.
Wanita paruh baya itu, masih berdiri
tegak dalam keangkuhannya. Ia tak memberi jawaban apapun dari teka-teki yang ia
ciptakan sendri untuk saat ini. Aku tak mungkin lagi menunggu purnama ke esokan
harinya dalam peraduanku sementara aku tlah berdiri di ujung puurnama, dan
sebentar lagi aku kan terjatuh menghempas bumi. Ku tundukkan wajahku dan berlutut padanya dengan penuh
kerendahan. “Saya tahu Ibu sangat kecewa padaku dan juga Pram, apalagi saya
bukanlah wanita yang Ibu harapkan. Tapi saya janji bu. Saya akan membahagiakan
Pram selama hidupku.”
Sebagai seorang wanita kutahu pasti
kalau ia bisa merasakan apa yang tersimpan dan berkecamuk dalam batinku.
Perlahan ia menunduk dan menyuruhku untuk bangkit.
Lalu dengan isakan tangis yang berusaha
dibendungnya ia mengucapkan sesuatu yang tak kutahu maknanya. ‘ Pilihlah jalan
hidupmu sendiri Pram, Ibu tak akan mencampurinya lagi, begitu pula dengan Ayahmu.
Ia akan sepaham dengan Ibu. Menikahlah dengannya tapi jangan pernah
menginjakkan kakimu lagi di rumah ini.” Kalimat inilah yang tergambar jelas
dalam ingatanku dan semakin menusuk hingga persendian otakku terasa tak
berfungsi lagi…….**
Dan pada akhirnya Pram memutuskan untuk
menikahiku, meski harus terpisah dengan orang tuanya. Tapi inilah jalan yang ia
tempuh untuk membahagiakanku, “meski sampai di ujung duniapun mereka berteriak
dan tak mengakuiku sebagai anak, aku tetap anaknya sampai kapanpun Dinda, aku
hanya butuh dukunganmu agar mereka bisa merubah pola pikirnya seiring waktu.”
Hanya kalimat itulah yang diucapkan Pram ketika aku mempertanyakan alasan
mengapa ia tetap ingin menikahiku. Ada perasaan bahagia yang menyelimuti
hatiku. Pram telah membuktikan semua janjinya padaku, janji yang selama ini
menjadi bayang-byang ketakutanku, kini tlah berubah menjadi senyuman indah
dalam lukisan hidupku bersama Pram.
Tak terasa sudah satu tahun pernikahan
kami, dan Tuhan telah menganugerahkan satu nafas hidup untukku dan juga Pram,
ia begitu mungil, mirip seperti Pram. Bidadari kecil yang kusebut Diva. Dan
satu hal lagi anugerah terbesar yang diberikan Tuhan seiring kelahiran Diva,
orang tua Pram pertama kalinya menemui kami di rumah kontrakan yang telah kami
sewa setelah menikah. Meski mereka hanya menyapa Pram , tapi setidaknya
kurasakan rona kesenangan terpancar jelas dari wajahnya saat melihat Diva. Aku
yakin waktu tak akan membuatku menunggu terlalu lama untuk mendapatkan cinta dari
orang tua Pram. Biarlah Tuhan menjalankan rencananya untuk menata kedewasaanku
agar tetap bersabar dan berusaha lebih baik dalam menjalani hidup, dan cerita
masa lalu kelamku tak akan kuwariskan pada Diva, bidadari kecilku. Suatu saat
nanti, akan ada cinta dari orang tua Pram yang jauh lebih indah dari harapanku.
Satu hal yang kutahu Pasti, cintaku untuk Pram takkan pernah salah…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar